Ujung….

Satu hal yang terkadang membuat manusia itu bingung akan pilihannya adalah dia tidak mampu memilah antara apa yang dia rasakan dan apa yang dia fikirkan. Terkadang kebimbangan adalah faktor yang sangat utama dalam kepiluan pilihan manusia terlepas dari apapun sebenarnya yang ingin dia cari dan sampaikan. Manusia lebih bimbang ketika diperhdapkan dengan hal-hal yang sifatnya empiris dibanding hal yang kemudian ada dalam bawah sadarnya.

Dibalik egoisme manusia sebenarnya ada kekuatan yang luar biasa dari dalam hatinya dimana setiap pilihan itu sebenarnya telah ia pahami resikonya namun terkadang sisi itu menjadi bumerang untuk kembali menyerang manusia itu sendiri.

Langkah ataukah mimpi ???????

Sejak akhir tahun lalu saya sudah dengan matang menyiapkan “perjalanan” S2 di salah satu universitas dipulau jawa. Berawal dari informasi yang saya terima mengenai Beasiswa Pemerintah yang dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan dalam hal ini dibawahi oleh Dikti. Dari situ awal langkah yang saya menembus awan-awan mimpi untuk lanjut S2.

Terlepas dari masa lalu kegagalan dalam pengurusan beasiswa sebelumnya, perlahan tapi pasti langkah ini berjalan seperti air yang menutun ku ke beberapa universitas swasta demi mencari jalan menuju S2. pintu ke pintu universitas ku masuki demi mencari jalan agar saya bisa diangkat menjadi dosen di lembaga itu. Dan akhirnya, salah satu lembaga pendidikan di daerah membukakan jalan itu.

Tapi tidak semudah itu ternyata, saya kemabli harus berhadapan dengan tembok yang mesti saya hadapi yakni lembaga “K”. Dan ternyata tembok berikutnya ini hampir sama saja dengan tembok sebelumnya. masih perlu proses panjang dalam menghadapinya dan juga secara aturan SK yang saya terima ternyata dinyatakan belum begitu siap untuk dirujuk sebagai penerima beasiswa.

Untuk kedua kalinya bayangan penolakan sepertinya aku terima. Tapi inilah perjuangan, sedikit lagi perjuangan itu akan sampai pada titik penghabisan menurutku (ternyata tidak mudah).

Dalam perjalanan langkah menuju S2 ternyata aku di uji oleh Sang Maha Kuasa dengan penyakit yang begitu lama proses penyembuhannya. Dan akibatnya banyak waktu yang terbuang dari kesampatan itu. Meski sebenarnya sedikit terpikir oleh proses tetap saja saya mesti sabar menjalani ujian penyakit ini. sebab menurut cerita dari orang tua maupun ulama yang biasa saya dengarkan bahwa penyakit adalah jalan Tuhan untuk menghapus segala dosa ummatnya.

Dimasa penyembuhan saya tetap berupaya agar informasi S2 tetap up-date saya terima. Dan saya berencana setelah sehat nanti saya masih bisa melanjutkan perjuangan yang tertunda. Setelah beberapa minggu beristirahat, akhirnya tubuhku pun kembali pulih dan rencana yang sebelumnya tertunda saya coba lanjutkan kembali. Namun, bukan berarti semua kembali “baik-baik saja”.

Hambatan demi hambatan terus menerpa, bak ombak di tengah lautan yang silih berganti datang. Perahu yang memang awalnya tidak begitu kuat akhirnya kembali terhempas. Dalam perjalanan kembaliku melanjutkan pengurusan ternyata masih ada kendala yang menimpa.

Bayangan S2 seolah sedikit menghilang dan terbuang jauh ke depan dan tak mungkin teraih lagi. semangat ini sedikit surut dan seolah berlari jauh meninggalkan aku. Tetap tenang, sabar dan tetap tersenyum dimata semua orang seolah-olah tak ada apa-apa. Tapi sebenarnya saya sudah diambang kekecewaan yang terus berlarut yang seolah tak ada solusinya.

Diambang kekecewaan itu ada secercah titik cerah kudapatkan. mekanisme lain terbuka dan itupun tidak terhalang oleh waktu. Namun yang membuat sedikit lagi mengelus dada adalah jurusan yang ku pilih tak ada dalam daftar perencanaan beasiswa.

Meski dukungan untuk meneruskan langkahku begitu besar, namun apakah jalan ini akan sama saja dengan sebelumnya ???

mari kita lihat hari esok….
semoga semuanya berbeda dari yang sebelumnya…
atau hanya seperti nyanyian “butiran debu”

Febrianto Syam

ketika semua mulai nampak.

awal dari perjalanan belum dimulai tapi dengan sedikit upaya, semua tampak nyata. terima kasih atas semua yang terlihat TUHAN. aku percaya ada awal dan akan ada akhir dari sebuah cerita.

sedikit bersenandung mungkin bisa menghilangkan itu semua.

RUMOR – Butiran Debu

namaku cinta ketika kita bersama
berbagi rasa untuk selamanya
namaku cinta ketika kita bersama
berbagi rasa sepanjang usia
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
hingga tiba saatnya aku pun melihat
cintaku yang khianat, cintaku berkhianat

aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
aku tenggelam dalam lautan luka dalam
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
aku tanpamu butiran debu

namaku cinta ketika kita bersama
berbagi rasa untuk selamanya
namaku cinta ketika kita bersama
berbagi rasa sepanjang usia

hingga tiba saatnya aku pun melihat
cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
menepi menepilah menjauh
semua yang terjadi di antara kita ooh

aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
aku tenggelam dalam lautan luka dalam
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
aku tanpamu butiran debu

(aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
aku tenggelam dalam lautan) dalam luka dalam
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu
aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu

saya yang menang

Assalamu alaikum.

Salam sejahtera buat kita semua.

Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah kisah dimana saya terlibat didalamnya. kisah ini bukan rekayasa, sebab apa yangsaya ceritakan dalam tulisan ini adalahfakta yang benar-benar nyata. Awal mulanya terjadi pada tahun 2010 kemarin, dimana saya untuk pertama kalinya mengikuti prosesi suksesi pemilihan dalam lembaga politik yang aktif dalam masyarakat. Memang lembaga ini berafiliasi dengan salah satu partai politik di Indonesia.

Dan saya sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada pribadi saya hingga saat ini. Memang awal karier politik saya bukan hanya dari lembaga ini, namun lembaga ini banyak mengajarkan kepada saya cara berpolitik mulai dari yang secara baik maupun sebaliknya. Terlepas dari itu lembaga ini merupakan lembaga yang sudah berdiri dari era 80an lalu. Jadi sedikit banyaknya asam manis dunia politik begitu terasa kental di dalamnya. Kembali ke subjek awal dari cerita ini adalah ketika tahun itu saya berencana mengikuti suksesi calon ketua lembaga itu.

aalanya seperti para kontestan lain, saya mesti meraih dan mencoba membangun kontrak politik dngan banyak orang maupun lembaga yang di naungi lembaga ini demi mencari pundi-undi suara yang signifikan. saat itu ada 2 kandidat calon yakni saya sendiri dan rekan saya yang inisialnya “TU”. persaingan pada awalnya berjalan lancar dan cukup menarik disamping kami adalah kader dari lembaga yang sama, kami juga di rekrut dahulunya hampir bersamaan sehingga apa yang slama ini kami terima kurang lebih hampir sama. Proses itu hampir menghabiskan waktu sekitar 3 bulan lamanya dan sempat menyita waktu dan pikiran sehingga saya harus menunda langkah ku untuk meraih gelar sarjana ilmu poltik di Universitas Hasanuddin.

pertarungan konsep, ide maupuntagline begitu menyeruak demi sukseis tersebut, seolah-olah ini merupakan pertarungan politik tingkat itnggi seperti pemiluada maupun pilpres. Dana yang dikuras dari suksesi cukup menguras kantong,dimana saya mengeluarkan dana hingga 9 Juta rupiah (belum termasuk sumbangan lainnya) sedangkan rekan saya TU mengeluarkan dana sebesar 6,7 Juta rupiah (Belum termasuk operasional yang diterima dari salah satu tokoh politik setempat dan sumbangan). benar-benar persaingan yang cukup alot mesti mekanismepolitik yang kami gunakan sesuai dengan tatanan yang benar dalam dua politki yakni tidak ada money politics, jekkong dan saling serang melalui media atau antar tim sukses. Proses berjalan hingga sampailah pada saat yang sangat dinanti-nanti semua calon yakni pemilihan. Musda pun bergolar dengan kehadiran eluruh peserta baik kader maupun simpatisan calon. sidang hari demi hari terus berjalan hingga tiba pada suatu hari dimana muncul kebijakan lembaga yang mengharuskan setiap calon memiliki pasangan. maksud pasangan disin adalah masing-masing calon harus memiliki wakil sehingga apda saat menjalankan lembaga nantinya tidak terjadi kekosongan jabatan apabila ketua berhalangan baik itu smentara maupun tetap. Disinilah awal dari ketidak beresan dari prosesi ini. karena sebenarnya dalam periode lalu tidak ada hal seperti ini. Unsur dari munculnya kebijakan ini adalah ada seorang anak dari pejabat partai tempat lembaga ini bernaung menginginkan memiliki kedudukan dalam lembaga sehingga muncullah ide seperti ini. Sebut saja orang itu “WP”, dia begitu ngotot pada orang tuanya agar dia diberi tempat khusus dalam lembaga ini demikelancaran sosialisasinya menjadi caleg di daerah tersebut. Akhirnya kebijakan itu kami terima sebagai konsekuensi dari lembaga yang bernaung dalam partai. saya dan TU kemudian dipanggil oleh ayah si WP ini demi membahas mengenai keikut sertaan bersama dalam suksesi. Proses pun berjalan saling lobi atu sama lain berlangsung. dan anehnya saya dan TU seolah-olah di pertarungkan dalam proses pertarungan mencari “02” yakni si WP ini. Persaingan sehatpun dimulai, saya dan TU mencoba membangun komunikasi dengan tokoh WP ini demi kelancaran suksesi lembaga. Terlepas dari itu, saya dan TU telah sepakat apapun pilihan WP nantinya itu adalah langkah yang tepat untuk menyelesaikan proses pemilihan yang sedikit tertunda ini. akhirnya hasil dari proses lobi kami mendapat itik temu. WP akhirnya berpasangan dengan TU. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat saya berserta tim karena memang kami menganggap hal itu tidak begitu penting. Sebab yang terpenting adalah proses yang kami jalankan ini merupakan salah satu cara dan tantangan dalam berpolitik. Seua berjalan lancar, saya kemudian memilih pasangan dari rekan sesama kader yang juga merupakan ketua organisasi pemuda yang bercorak Islam. babak baru dimulai perjalanan politik berjalan dalam musda itu dan sampailah pada ititk akhir yakni penghitungan suara. Hasilnya pun cukup memuaskan meski ada sedikit kekecewaan karena saya dan rekan saya mesti menerima kekalahan yang cukup singnifikan. perbdedaan suara kami hanya 1 suara dimana TU dan WP mendapat 150 suara dan kami 149 suara. semua mampu menerima dengan baik hasil ini. hingga musda kemudian ditutup secara resmi. waktu terus berjalan dan kembali lagi, tahun 2012 kembali lembaga ini harus melakukan musda. namun yang sebenarnya mengganjal dalam hati saya adalahtokoh WP ini. selama periode yang lalu, dia begitu memojokkan saya. bahkan hampir memecat saya sebagai kader tanpa alasana yang jelas. dan proses itu berjalan cukup lama mulai akhir 2010 lalu. Namun itu tidak mengurungkan niat untuk kembali bertarung tahun ini meskipun harus melawan kekuatan besar saya yakin pasti akan menang. Terlepas dari itu rekan ku Tu yang sebelumnya adalah ketua periode sebelumnya juga mengatakan bahwa WP bgitu mendikte kinerja lembga seolah lembaga ini miliknya. sehingga banyak kebijakan yang harus bermasalah dalam pelaksanaan dan proses strukturisasi lembaga. Pertarungan tahun ini memang cukup alot kalau saya mnilai, sebab saya mesti melakukan tindakan progresif untuk menang. dan hal itu di dukung oleh rekan-rekan dan juga rekanku TU maka musda tahun ini dipercepat karenaakan ada sulsesi pilgub yang mesti dilaksanakan dan merupakan agenda utama lembaga. YAng terjadi kemudian adalah sungguh diluar dugaan rekomendasi pun dikeluarkan oleh pemimpin partai daerah sulsel yang kami naungi. dalam rekomendasi itu menyarankan saya yang memiliki potensi dalam hal ini. entah dari mana dasar hingga rekomendasi itu ada namun, akhir dari proses ini adalah saya menang dengan cara aklamasi. Dengan adanya rekomendasi itu membuat dana dan waktu serta tenaga tidak menguras terlalu banyak dalam musda kali ini. Satu pesan yang bisa saya tarik dari cerita ini adalah perjalanan politik memang penuh liku, namun bukan berarti kita harus berbuat curang untuk mendapatkan suatu tahta atau jabatan. terlebih bila proses itu adalah melalui mekanisme pemilihan. biarkan orang lain yang menilai layak tidaknya kita menjadi seorang pemimpin. bukan diri kita.

Ojek Sebagai Kekuatan Massa Baru (Part 1)

Reformasi di Indonesia telah berkumandang dari tahun 1998 dengan diturunkanya soeharto dari singgasana tahtanya. Seiring dengan itu keran demokrasi politik dalam masyarakat juga mulai terbuka luas. Menyampaikan aspirasi-aspirasi kini bukan lagi menjadi hal yang tabu dalam masyarakat. Utamanya masyarakat daerah.

Tidak terlepas dari proses situ pula, lembaga-lembaga yang ada baik itu eksekutif, dan legislative juga mulai membuka keran penerima aspirasi mereka. Meskipun kesemuanya itu belum bias berlangsung secara maksimal dalam tindakannya. Namun sedikit ada jalan yang cerah untuk system yang berjalan dengan adanya ditopang oleh kelompok masyarakat yang mulai aktif berpatisipasi.

Kelompok masyarakat yang hadir disini adalah kelompok memiliki kepentingan tertentu atau kelompok yang berfungsi sebagai pengontrol. Para kelompok kepentingan yang hadir tentunya lebih mengarahkan kepentingan politik mereka kearah mana mereka mau dengan mengaspirasikan kepentingan itu berdasarkan kebutuhan mereka. Sedangkan kelompok pengontrol disini hadir sebaga kelompok penyeimbang dalam proses politik.

Lahirnya kelompok kepentingan di tengah proses politik masyarakat hanya didasari kepentingan segellintir orang yang tergabung dalamsuatu kepentingan yang sama dalam masyarakat.  Mereka hadir lebih kepada memuaskan kepentingan yang ada dalam tujuan mereka ataukah memberi tekanan terhadap daerah sehingga nilai prestise kelompok mereka lebih mengemuka dibanding kelompok lainnya.

Kelompok kepentingan umumnya lebih kepada persekutuan terbatas yang didalamnya mungkin terdapat tokoh-tokoh yang berkompeten dalam bidang tertentu. Misalnya kelompok perkumpulan dan sebagainya. Kelompok ini lebih mampu menimbulkan tekanan tertentu dibanding tekanan yang hadir dari masyarakat secara langsung.

Perkumpulan ini bias saja berupa perkumpulan`yang legal/resmi maupun tidak. Meski, pada aplikasinya kelompok yang sifatnya sementara/ tidak resmi pengaruhnya tidak begitu banyak dalam proses politki daerah.

Di kota palopo hal ini mungkin dapat kita amati. Meski sifatnya mungkin tidak begitu besar namun apresiasi mereka cukup member konstribusi tersendiri dalam proses politik daerah. Komunitas pengendara ojek yang ada dikota palopo memang secara tidak langsung tidak terhubung pada permainan poliitik yang ada di daerah, namun suara maupun aspirasi mereka mampu mempengaruhi bahkan bila perlu mengubah arah kebijakan mereka apabila kelompok ini mampu hadir sebagai kelompok yang mau diperhitungkan dalam kancah politik daerah.

Bnyak cara yang mampu mereka lakukan dalam mempengsruhi proses politikmapunu kebijakn daerah apabila memmang mereka merasa dalam kebijakan tersebut hak mereka di kebiri atau lebih parah lagi di hilangkan.

Proses tersebut mungkin sebagian masyarakt adalah proses politik yang biasa. Tapi perlu kita tinjau terlebih dahulu bahwa kota palopo ini berkembang ditunjang oleh adanya para “Daeng Ojek” kita yang mampu mengatasi laju transportasi yang ada di kota palopo. Terlepas dari mode-mode transportasi lainnya yang juga merupakan sarana pengangkutan yang ada.

Tanpa kita sadari komunitas tukang ojek kota palopo cukup besar dan mungkin komunitas ojek terbesar di daerah luwu raya. Tukang ojek daerah memang kita lihat kurang berperan dalam proses politk yang sifatnya langusng seperti pembuatan kebijakan dan sebagainya. Namun suara para tukang ojek juga perlu didengar atau diperhatikan oleh masyarakt kota palopo utamanya pemerintah dan lembaga legislative yang ada. Sebab bila para daeng ojek kita ini tidak diperhatikan maka sedikit banyaknya proses daerah yang berhubungan dengan transpotasi daerah kota palopo akan terganggu.

to be countinued.

Mahasiswa Dan sekelumitnya

Mahasiswa menempati kedudukan yang khas (Special position) dimasyarakat, baik dalam artian masyarakat kampus maupun diluar kampus. Kekhasan ini tampak pada serentetan atribut yang disandang mahasiswa, misal : intelektual muda, kelompok penekan (Pressure group), agen pembaharu (Agent of change), dan kelompok anti statusquo.

Dalam konteks pergerakan politik di Indonesia, sejarah perjuangan mahasiswa Indonesia sudah eksis sejak sebelum kemerdekaan. Bahkan, dapat dikatakan mereka adalah pelopor pergerakan kemerdekaan secara modern melalui organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa. Hal ini dapat dilihat dari kepeloporan mahasiswa Stovia yang dimotori Wahidin Sudirohusodo dalam mempelopori gerakan kemerdekaan dengan organisasi modern. Hal yang kurang lebih sama dilakukan oleh pergerakan mahasiswa dinegeri Belanda, Kelompok Kramat Raya, Pegangsaan, KAMI, Malari, dan yang terakhir jatuhnya rezim Soeharto oleh gerakan Reformasi Mahasiswa. Fakta- fakta ini menunjukkan bahwa mahasiswa adalah kelompok yang selalu berdiri di garda terdepan dalam hampir setiap perubahan yang terjadi.

Dalam perspektif sosial, mahasiswa pun menunjukkan dinamika tersendiri sebagai kelompok yang secara konsisten memperjuangkan hak-hak kaum tertindas serta memberi kontribusi yang tidak kecil dalam rekayasa perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih baik. Posisi mahasiswa yang netral (Neutral position) dan tidak mempunyai kepentingan tertentu atau dibawah kepentingan telah menempatkannya pada posisi yang sangat disegani dan dihormati dalam setiap proses perubahan sosial masyarakat.

PERUBAHAN SOSIAL
Perubahan sosial adalah suatu fenomena yang menarik sebab masalah sosial adalah perkara yang berhubungan dengan persoalan manusia sehingga tak sedikit para ahli soiologi mengkaji masalah ini. Sementara perubahan itu sendiri-baik yang sudah, sedang atau sudah berlangsung- sangat perlu diketahui apakah memberi banyak manfaat (dalam arti mampu memenuhi kebutuhan manusia). Memang, para ahli sosiologi tampaknya belum begitu sepakat tentang pengertian dan penggunaan istilah”Perubahan sosial” tersebut. Sebagian dari mereka mengartikan istilah itu dengan evolusi, pembangunan, perkembangan, dan perubahan yang terjadi di masyarkat. Dengan kata lain, istilah “Perubahan sosial” itu terbuka untuk di diskusikan.

Sosiolog Nisbet, membedakan penggunaaan istilah change dengan evolution, dengan maksud untuk mendeteksi “perubahan”. Change diartikannya sebagai terjadinya diskontinuitas dalam proses kehidupan masyarakat ; sementara evolution diartikan sebagai terdapatnya suatu kontinuitas dalam proses yang sama. Pikiran Marx mengenai perubahan sosial lain lagi. Menurut Marx, jika lapisan atas (supra struktur) ssosial yang memegang kekuasaan karena menguasai alat-alat produksi bertindak sewenang-wenang dan melakukan tekanan terhadap lapisan bawah sosial, orang-orang dalam lapisan terakhir itu akan menuntut (dengan”kekerasan”) suatu perubahan sosial.

KRISIS SOSIAL MASYARAKAT MAJU
Untuk menggambarkan krisis masyarakat maju itu secara fenomenal, ada baiknya diberikan ilustrasi singkat tentang dua ideologi besar yang paling dominan dan berpengaruh terhadap perubahan masyarakat selama ini, yaitu kapitalisme dan sosialisme.

I. Kapitalisme
Landasan ideologi ini adalah pemenuhan kebutuhan atau kepentingan individu sekaligus berarti pemenuhan kebutuhan masyarakat. Alasannya, karena individu merupakan bagian dari masyarakat. Untuk mengoperasionalkan sistem yang sangat individualis ini, ia harus dimoitivasi oleh norma-norma kebebasan dalam politik, ekonomi, intelektual, pribadi dan sebagainya. Kebebasan ekonomi misalnya, memberikan hak kepada setiap orang untuk melakukan kegiatan apa saja dalam bidang usaha. Tidak menjadi soal, apakah aktivitas ekonomi terd\sebut memberikan berkah atau tidak kepda masyarakat; yang penting dalam kegiatan ini adalah mendatangkan keuntungan (terutama untuk diri sendiri).

Kebebasan intelektual misalnya, orang bebas mempercayai doktrin atau ajaran-ajaran sesuai dengan minat intelektualnya, dan kalau dianggap tidak cocok lagi boleh diganti. Kebebasan intelektual demikian ini telah membawa kepada sebuah statement bahwa “tidak ada tempat /ruang dan tidak bisa dijamah oleh pikiran manusia”. Revolusi sains dan teknoogi telah melahirkan mesin-mesin industri raksasa yang menggusur teknologi rakyat kearah kebangkrutan. Tak dapat dielakkan hanya orang kuat yang banyak mengambil keuntungan dari revolusi ini dan sebagai dampaknya adalah tergusurnya kaum marginal atu pinggiran.

Masyarakat yang dilahirkan oleh sistem atu ideologi ini adalah bentuk masyarakat yang pikiran dan hatinya diamuk “nafsu penjajah”. Apa yang selama ini mereka rasakan tak lain adalah ketegangan-ketegangan sosial dan kehampaan jiwa.

II. Sosialisme
Konsep manusia dalam ajaran ini secara spiritual dan intelektual telah di kondisikan untuk mengabdi kepada proses dan jenis produksi. Pemikiran-pemikiran manusia dalam masalah sosial saangat di pengaruhi oleh kekuatan-kekuatan produksi. Namun konsep manusia versi Marxisme ini mengalami kesulitan untuk menjelaskan fakta sejarah sebab dalam mewujudkan cita-cita sosial manusia memiliki suatu yang lain yaitu kreativitas. Plato, misalnya memperkenalkan konsep “kota ideal” tanpa sama sekali dipengaruhi oleh alat-alat produksi.

Kesejahteraan material memang dipandang sebagai suatu kebanggaan dalam sistem pembangunan masyarakat aliran ini, yang sekaligus membuktikan bahwa cara kerja sistem ini benar. Namun sebenarnya terdapat belenggu yang mendominasi individu-individu atas nama kepentingan sosial. Sistem ini mengajarkan. Segala kehgiatan perekonomian berada dalam kekuasaaan negara. Akibatnya, lenyaplah eksistensi dan kreativitas individu.

PERAN MAHASISWA
Mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang sedang menekuni bidang ilmu tertentu dalam lembaga pendidikan formal. Kelompok ini sering juga disebut sebagai “Golongan intelektual muda” yang penuh bakat dan potensi. Posisi yang demikian ini sudah barang tentu bersifat sementara karena kelak di kemudian hari mereka tidak lagi mahasiswa dan mereka justru menjadi pelaku-pelaku intim dalam kehidupan suatu negara atau masyarakat.

Peran mahasiswa sejauh ini senantiasa diwarnai oleh situasi politik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Mereka biasanya memerankan diri sebagai “Oposan” yang kritis sekaligus konstruktif terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan politik, ekonomi. Mereka sangat tidak toleran dengan penyimpangan apapun bentuknya dan nurani mereka yang masih relatif bersih dengan sangat mudah tersentuh sesuatu yang seharusnya tidak terjadi namun ternyata itu terjadi atau dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu dalam masyarakat dan pemerintah.

Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan Pembina pada masa depan ditantang untuk memperlihatkan kemampuan untuk memerankan peran itu. Jika gagal akan berdampak negatif pada masyarakat yang di pimpinnya; demikian pula sebaliknya. Dalam perubahan sosial yang dasyat saat ini, mahasiswa sering dihadapkan pada kenyataan yang membingungkan dan dilematis. Suatu pilihan yang teramat sulit harus ditentukan, apakah ia terjun dalam arus perubahan sekaligus mencoba mengarahkan dan mengendalikan arah perubahan itu; ataukah sekedar menjadi pengamat dan penonton dari perubahan atau mungkin justru menjdi korban obyek sasaran dari perubahan yang dikendalikan oleh orang lain. Melihat realitas dan tantangan diatas,mahasiswa memiliki posisi yang sangat berat namun sangat strategis dan sangat menentukan .Bukan zamannya lagi untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi;tetapi harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut adalah benar-benar masyarkat yang adil dan makmur.

PERGERAKAN MAHASISWA INDONESIA

Perjalanan bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari angkatan muda ,terutama mahasiswa. Mahasiswa mempunyai record yang cukup mengesankan dalam perjalanan membangun bangsa ini, baik mulai dari pra kemerdekaaan, masa orde lama, orde baru, orde reformasi maupun orde persatuan nasional saat ini.
Pada masa pra kemerdekaan orientasi gerakan mahaiswa Indonesia mengarah pada satu tujuan: yaitu melepaskan diri dari penjajahan. Mahasiswa bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat Indonesia bahu membahu menentang penjajah. Walaupun dengan stereotip gerakan yang berbeda-beda tetapi karena mempunyai satu tujuan, mereka tetap dalam satu kesatuan yang saling melengkapi. Karena semua komponen bangsa mempunyai arah dan tujuan gerakan yang sama, dapat dikatakan bahwa masa ini adalah masa yang paling mudah bagi mahasiswa untuk melakukan sinkronisasi gerakan dengan unsur lainnya. Pada masa ini kita melihat bahwa mahasiswa mempunyai stereotip yang khas yang mampu membedakan dengan elemen gerakan masyarakat lainnya. Dengan atribut kecendekiannya, mereka secara aktif dan kreatif mencoba menawarkan alternatif-alternatif baru yang non konvensional yang lebih efektif dan efisien.
Setelah kemerdekaan diraih bangsa Indonesia, bukan berarti gerakan mahasiswa mandek tetapi mereka tetap memerankan diri sebagai bagian dari bangsanya untuk tetap dapat mempertahankan kemerdekaan dan kehormatan bangsanya. Mereka secara kritis dan pro aktif memerankan posisi sebagai pressure group (kelompok penekan) terhadap pemerintah agar tetap berjalan sebagai mana seharusnya. Ketika pemerintahan orde lama mulai terjadi kecenderungan mengakomodinir komunis secara berlebihan, mahasiswa kembali bangkit bersama rakyat untuk menentang kebijakan pemerintah.
Pemerintahan orde lama runtuh dan diganti orde baru, tidak kemudian serta merta mahasiswa mempunyai loyalitas buta terhadap pemerintahan baru. Gerakan mahasiswa bukanlah gerakan partisan untuk kepentingan politik tertentu, tetapi mereka adalah gerakan nurani, gerakan moral untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan rakyat secara universal. Kemurnian gerakan mahasiswa yang mengedepankan kepentingan masyarakat diatas kepentingan apapun tampaknya kemudian disalah tanggapi pemerintahn orde baru. Mahasiswa dianggap sebagi momok yang mengganggu dan merecoki kepentingan-kepentingan pemerintah yang berkuasa. Dengan dalih demi kepentingan stabilitas dan atas nama pembangunan, kemudian mereka diatas sedemikian rupa sehingga membelenggu aktifitas, kreatifitas dan kritisme mereka. Mahasiswa kemudian dicecoki dengan dogma-dogma pendidikan yang pragmatis.dalam situasi yang tidak menguntungkan itu tidak semua mahasiswa terlena dengan pragmatisme pendidikan yang dikembangkan orde baru.walaupun jumlahnya tidak banyak tetapi mereka dengan konsisten terus menyuarakan kebenaran dan keadilan dengan segala konsekuensi dan resiko yang akan dihadapinya. Kampus adalah bagian integral dari masyarakat. Apa yang dirasakan oleh masyarakat dirasakan pula oleh komunitas kampus;dan kampus mempunyai tanggung jawab sosial untuk terus memperjuangkan masyarakat dari kemiskinan dan ketidakadilan yang menimpa mereka. Yang juga menguntungkan, pada saat yang bersamaan rezim orde baru mulai tampak belangnya: kemiskinan,ketimpangan,ketidakadilan,ketidakjujuran ternyata lebih dominan daripada kemakmuran yang selama ini dipropagandakan mereka.Situasi inilah yang turut menjadi angin segar bagi bangkitnya kembali kesadaran “mahasiswa awam”agar memerankan kembali peran-peran pressure group, agent of social change, dan kelompok anti status quo sebagaimana sebelumnya.

Di Indonesia ada slogan yang menyatakan “ Pemuda harapan bangsa” atau “Maju mundurnya suatu bangsa tergantung pada Pemudanya”. Beberapa slogan diatas menunjukkkan bahwa pemuda atau Mahasiswa memang akan akan menjadi penerus dari generasi sekarang. Generasi sekarang jelas akan termakan usia, Pemuda/Mahasiswa sebagai generasi penerus akan melanjutkan dan memikul segala beban dan akibat dari generasi sekarang. Karena Para Pemuda/Mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan.
Diakui atau tidak peran Pemuda/Mahasiswa memang sangat strategis dalam perubahan sosial. Ide-ide Pemuda/Mahasiswa sering dianggap sebagai suara rakyat, karena kedekatan sosial mereka dengan Masyarakat bawah. Ide-ide Pemuda/Mahasiswa sering dianggap sebagai ide yang membela kaum mustad’afien (Kaum lemah dan terpinggirkan). Pemuda/Mahasiswa juga dianggap sebagai pemecah kebuntuan dan Problem Solver terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dan juga pembawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Pemuda/Mahasiswa Sebagai Agent Of Change.
Pembaharuan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti hasil pekerjaan yang membaharui. Pembaharuan ini juga bisa berarti modernisasi dimana hasil perubahanny menunjukkan hasil yang lebih baik. Kenapa dikatakan Pemuda/Mahasiswa Sebagai Agent Of Change karena Pemuda/Mahasiswa dapat berfungsi sebagai bagian dari masyarakat yang mampu mendorong, memotivasi, dan mempelopori terjadinya pembaharuan.

Selain itu, Pemuda/Mahasiswa juga sebagai bagian dari Masyarakat yang dinilai memiliki intlektual dan memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan Masyarakat pada umumnya karena lingkungan yang berbeda.
Sedangkan agent dapat diterjemahkan sebagai perantara atau perwakilan dari suatu Institusi/Lembaga. Sebagai Agent Of Change dapat dikatakan pula sebagai actor perantara atau perwakilan dari proses perubahan pada Masayarakat kearah yang lebih baik. Sejarah mencatat peran Pemuda/Mahasiswa dalam pembaharuan negeri ini dari sebelum kemerdekaan hingga Pasca kemerdekaan. Sebut saja tahun 1912 (Douwes Dekker dkk), 1928 (Sumpah Pemuda), 1945 (kemerdekaan RI) , 1965 (melawan G 30 S/PKI), 1998 (Reformasi). Beberapa momentum diatas hanya sedikit menggambarkan tentang kepedulian Pemuda/Mahasiswa Indonesia dalam mengawasi jalannya Pemerintah. Peran Pemuda/Mahasiswa ini menunjukkan adanya kekonsistensian Pemuda/Mahasiswa dalam mengawasi dan jika perlu melakukan perlawanan atau penekanan terhadap jalannya pemerintah yang dianggap melenceng.
Perjuangan masih panjang, dinamika kehidupan semakin kompleks, dan kita tidak hanya bias berbangga diri hanya dengan sejarah yang telah ada. Semoga Identitas Pemuda/Mahasiswa
Sebagai Agent Of Change tidak hanya menjadi sejarah saja, tetapi menjadi semangat juang kita dalam memperjuangkan kepentingan Masyarakat.